Anarkisme dan Represif Polri

source : twitter

Bagai kucing dan tikus yang selalu berantem seperti di film tom and jerry. Anarkisme dan tindakan represif Polri acapkali sering terjadi ketika aksi demonstrasi.

Dari sudut pandang Polri tindakan represif terjadi karena massa yang sulit terkendali. Mulai memaksa masuk melewati barikade, anarkisme yang membuat Polri harus bertindak demi keamanan dan segera membubarkan kericuhan yang terjadi.

Namun, sangat amat disayangkan tindakan represif ini sering kali melewati batas tugas Polri yang mengayomi. Sesuai prosedural membubarkan massa, gas air mata dan water canon dilakukan demi membubarkan kericuhan. Tindakan ini dilakukan setelah tahapan-tahapan persuasif Polri dihiraukan oleh massa aksi. Tapi kenyataannya tidak hanya begitu pemukulan, pengejaran, bahkan sweeping berbuntut penangkapan pun dilakukan.

Banyak video yang tersebar beberapa anggota Polri justru memukuli orang yang sedang terkena macet, merampas aset milik wartawan yang sudah menunjukkan identitasnya, menuduh mobil ambulan membawa batu dan bensin untuk menyerang anggota Polri, dan yang paling tragis tewasnya mahasiswa di Kendari akibat tertembak peluru tajam.

Begitu pula Anarkisme yang dilakukan beberapa oknum kepada polisi tidak pantas untuk kita dukung. Anarkisme yang dilakukan anak STM justru mendapat dukungan oleh warganet karena kekesalan mereka terhadap polisi. Padahal beberapa anak STM ini melakukan aksi tanpa tahu apa sebenarnya substansi yang ingin disampaikan. Mereka terkesan hanya ingin membuat keadaan semakin gaduh dan rusuh.

Tindakan represif polri harus kita kecam begitu pula anarkisme yg dilakukan STM tidak untuk didukung. Mengapa? karena jalan kekerasan tidak menghasilkan apa-apa, justru menjatuhkan banyak korban.

1 komentar: